Duka Kanjuruhan, Duka Kita
Dunia sepak bola Indonesia kembali berduka. Laga Sepak Bola antara
Persebaya vs Arema FC pada BRI Loga 1 menelan
korban jiwa. Sejumlah 131 korban
meninggal dunia , 550 korban luka ringan dan 23 korban mengalami luka berat.
Kompetisi sepakbola yang diharapkan sebagai ajang sportivitas meraih prestasi namun berujung duka.
Apa penyebab terjadinya kerusuhan?
Dari berbagai sumber,musibah itu berawal dari pertandingan
sepakbola antara Arema FC vs Persebaya dalam BRI Liga 1 pada hari sabtu tanggal
1 Oktober 2022. Saat pertama mengetahui info tentang peristiwa tersebut saya
mengira kalau penyebabnya adalah tawuran antara Bonek dan Aremania, pendukung
fanatik kedua Tim Sepak Bola yang sama -sama dari Jawa Timur. Namun ternyata
dugaan itu salah. Menurut pernyataan resmi dari ketua Bonek bahwa tidak ada
Bonek yang menonton pertandiangan di Malang. Pertandingan yang berakhir dengan
skor 2-3 untuk Persebaya itu berjalan lancar dan selebarasi dari Tim pemenang
juga wajar dan tidak berlebihan yang bisa membuat Tim lawan merasa panas. Setelah
pertandingan usai, ada penonton yang menghampiri pemain Arema FC yang baru saja
menelan pil pahit kekalahan atas Persebaya 2-3. Mereka ingin memberi support
dan memotivasi Tim kesayangan mereka itu. Ulah penonton itu diikuti lainnya. Ratusan
supporter turun ke lapangan. Polisi yang bertugas berusaha menghalau mereka
supaya tidak turun ke lapangan tapi tidak berhasil. Polisi tidak ada cara lain
selain menembakkan gas air mata untuk mengusir ribuan penonton yang turun ke
lapangan. Saksi mata mengatakan ada penonton yang mengingatkan polisi untuk
tidak menggunakan gas air mata karena ada anak kecil. Namun polisi tetap
melemparkan gas air mata ke berbagai sudut stadion dengan harapan mereka segera
meninggalkan stadion Kanjuruhan. Dengan perasaan yang panik, mata pedih karena
terkena gas air mata juga nafas yang mulai sesak, ribuan penonton berebut
menuju pintu keluar. Dari 8 pintu emergency, hanya dua pintu yang dibuka. Ternyata
pintu yang lain tidak dapat difungsikan.Itu benar-benar kelalaian dari Panitia
pelaksana. Dugaan sementara para korban trinjak-injak supporter lain seta sesak
nafas akibat semprotan gas air mata dari petugas keamanan.Menurut data
Kemeterian PPPA, dari total yang meninggal 33 diantaranya anak-anak berusia
4-17 tahun. Sumber lain mengungkapkan polisi sudah mengungatkan agar
pertandingan tidak dilakukan di malam hari, namun panitia menolak dengan alas
an sudah sesuai dengan rencana.
Apa yang harus dilakukan agar tragedi Kanjuruhan tidak berulang
di masa yang akan datang?
Tragedi sepakbola yang menelan korban jiwa tentunya menjadi
pelajaran bagi berbagai pihak, khususnya panitia pelaksana. Jangan hanya karena
ingin meraup keuntungan kemudian mengabaikan keamanan. Pastikan jumlah tiket
yang dijual sepadan dengan kapasitas stadion. Tiket bisa dibeli di aplikasi
sehingga tidak perlu ada loket karcis di stadion.Dengan membeli tiket lewat aplikasi
jumlah penonton bisa diketahui sehari sebelum pertandingan. Penjualan tiket
bisa ditutup dua hari sebelum pertandingan sehingga keamanan bisa disiapkan
dengan baik. Belajar dari tragedy Kanjuruhan, panitia pelaksana juga harus
memastikan semua pintu emergency berfungsi dengan baik sehingga kalau ada
sesuatu yang tidak dinginkan mereka bisa dengan mudah mengakses pintu-pintu itu
untuk menghindar dari bahaya. Dan yang tak kalah penting adalah, para petugas
menggunakan hati nuraninya dalam menghadapi masa sehingga tidak melakukan
tindakan represif yang tentunya akan
panjang dampaknya.
Sebagai penutup, tragedi Kanjuruhan membawa duka tidak hanya
untuk keluarga korban, tapi juga duka kita semua, bangsa Indonesia. Semoga para
korbann yang meninggal mendapat tempat terbaik disisisNYA dan keluarga korban
selalu diberi kekuatan dan kesabaran atas musibah yang mereka alami.
Gambar
@Rendy Prasetya
@artsagav
Subscribe by Email
Follow Updates Articles from This Blog via Email


No Comments