Sabtu, 08 Oktober 2022

thumbnail

Duka Kanjuruhan, Duka Kita

 


Duka Kanjuruhan, Duka Kita

Dunia sepak bola Indonesia kembali berduka. Laga Sepak Bola antara  Persebaya vs Arema FC pada BRI Loga 1 menelan korban jiwa.  Sejumlah 131 korban meninggal dunia , 550 korban luka ringan dan 23 korban mengalami luka berat. Kompetisi sepakbola yang diharapkan sebagai ajang sportivitas meraih prestasi  namun berujung duka.

Apa penyebab terjadinya kerusuhan?

Dari berbagai sumber,musibah itu berawal dari pertandingan sepakbola antara Arema FC vs Persebaya dalam BRI Liga 1 pada hari sabtu tanggal 1 Oktober 2022. Saat pertama mengetahui info tentang peristiwa tersebut saya mengira kalau penyebabnya adalah tawuran antara Bonek dan Aremania, pendukung fanatik kedua Tim Sepak Bola yang sama -sama dari Jawa Timur. Namun ternyata dugaan itu salah. Menurut pernyataan resmi dari ketua Bonek bahwa tidak ada Bonek yang menonton pertandiangan di Malang. Pertandingan yang berakhir dengan skor 2-3 untuk Persebaya itu berjalan lancar dan selebarasi dari Tim pemenang juga wajar dan tidak berlebihan yang bisa membuat Tim lawan merasa panas. Setelah pertandingan usai, ada penonton yang menghampiri pemain Arema FC yang baru saja menelan pil pahit kekalahan atas Persebaya 2-3. Mereka ingin memberi support dan memotivasi Tim kesayangan mereka itu. Ulah penonton itu diikuti lainnya. Ratusan supporter turun ke lapangan. Polisi yang bertugas berusaha menghalau mereka supaya tidak turun ke lapangan tapi tidak berhasil. Polisi tidak ada cara lain selain menembakkan gas air mata untuk mengusir ribuan penonton yang turun ke lapangan. Saksi mata mengatakan ada penonton yang mengingatkan polisi untuk tidak menggunakan gas air mata karena ada anak kecil. Namun polisi tetap melemparkan gas air mata ke berbagai sudut stadion dengan harapan mereka segera meninggalkan stadion Kanjuruhan. Dengan perasaan yang panik, mata pedih karena terkena gas air mata juga nafas yang mulai sesak, ribuan penonton berebut menuju pintu keluar. Dari 8 pintu emergency, hanya dua pintu yang dibuka. Ternyata pintu yang lain tidak dapat difungsikan.Itu benar-benar kelalaian dari Panitia pelaksana. Dugaan sementara para korban trinjak-injak supporter lain seta sesak nafas akibat semprotan gas air mata dari petugas keamanan.Menurut data Kemeterian PPPA, dari total yang meninggal 33 diantaranya anak-anak berusia 4-17 tahun. Sumber lain mengungkapkan polisi sudah mengungatkan agar pertandingan tidak dilakukan di malam hari, namun panitia menolak dengan alas an sudah sesuai dengan rencana.

Apa yang harus dilakukan agar tragedi Kanjuruhan tidak berulang di masa yang akan datang?

Tragedi sepakbola yang menelan korban jiwa tentunya menjadi pelajaran bagi berbagai pihak, khususnya panitia pelaksana. Jangan hanya karena ingin meraup keuntungan kemudian mengabaikan keamanan. Pastikan jumlah tiket yang dijual sepadan dengan kapasitas stadion. Tiket bisa dibeli di aplikasi sehingga tidak perlu ada loket karcis di stadion.Dengan membeli tiket lewat aplikasi jumlah penonton bisa diketahui sehari sebelum pertandingan. Penjualan tiket bisa ditutup dua hari sebelum pertandingan sehingga keamanan bisa disiapkan dengan baik. Belajar dari tragedy Kanjuruhan, panitia pelaksana juga harus memastikan semua pintu emergency berfungsi dengan baik sehingga kalau ada sesuatu yang tidak dinginkan mereka bisa dengan mudah mengakses pintu-pintu itu untuk menghindar dari bahaya. Dan yang tak kalah penting adalah, para petugas menggunakan hati nuraninya dalam menghadapi masa sehingga tidak melakukan tindakan represif yang tentunya akan  panjang dampaknya.

Sebagai penutup, tragedi Kanjuruhan membawa duka tidak hanya untuk keluarga korban, tapi juga duka kita semua, bangsa Indonesia. Semoga para korbann yang meninggal mendapat tempat terbaik disisisNYA dan keluarga korban selalu diberi kekuatan dan kesabaran atas musibah yang mereka alami.


Gambar

 Twitter 

@Rendy Prasetya

@artsagav



 

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments